Berjudul "Asing"
"jangan ada yang asing ya".
Kalimat itu seketika membuyarkan logika yang sedang berjalan di tengah keramaian, aku juga sempat berjanji dan melontarkan kalimat itu, tapi yang terjadi aku tidak pernah ingin mendengarkannya lagi. Karena, di setiap perjumpaan ada yang membawa bahasa dan iramanya masing-masing, aku tidak tahu menjadi bagian yang mana, namun yang kupahami, bahwa seseorang akan habis di satu masa, di satu rasa, dan di satu cerita. Aku tak lagi menyalahkan hal itu, karena aku sangat percaya pada pepatah
"setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya".
Dengar? bahkan dari kalimat itu saja kita sudah bisa menerka, bahwa setiap orang akan kembali atau bahkan pergi ke tempat yang sudah menunggu nya, peran kita disini hanya menjaga dari apa yang akan menjadi takdir nya.
Akhirnya aku mengerti, bahwa pertanyaan bukan selalu lahir dari kekurangan, melainkan dari pengakuan. Aku mengakui bahwa pernah ada yang istimewa, dan aku tidak perlu membuktikannya dengan pengulangan.
Jika memang tak ada lagi yang sepertinya, justru disitulah letak keindahannya.
Terus teringat dan tersemat.
Komentar
Posting Komentar