Di Kala "Tenang"


 “dariku. Yang tak pernah sepenuhnya sembuh.”

 

 

 

 

 

PROLOG’UE

 

Entah bagaimana caranya, agar aku bisa dimengerti oleh orang lain yang berada didunia ini. Karena, tak akan ada yang memahami diamnya kita sebelum mereka merasakannya sendiri. Aku Kala, menjadi salah satu bagian dari orang yang memilih untuk membungkam, dalam jeda seperti tempat singgah yang sunyi, dan ruang kecil untukku menghela napas. Aku paham, bahwa diam adalah medan yang tak akan pernah usai bergerak — luas, yang selalu dipenuhi gema dari hal yang ingin kulupakan.

Orang lain hanya bisa melihatku seperti orang yang penuh dengan ketenanga, dan sellau tahu harus bersikap seperti apa, Mereka menyukai, memuji bahkan menjadikanku tempat yang penuh dengan pertanyaan disaat keadaan nya begitu kacau. Aku pikir, ketenanganku membawa pada bentuk kedewasaan. Padahal, dibalik semua itu, aku juga sedang menata dan belajar menahan sesuatu yang tak pernah aku ungkapkan kepada siapapun, aku juga tak tahu bagaimana cara melepaskannya. .

Terkadang, aku merasakan bahwa dunia bergerak begitu cepat, sementara aku tertinggal sendirian di tengah jalan. Juga, ada saat-saat ketika dunia begitu hening hingga aku bisa mendengar percikan logika yang berbisik : “Masih mau terlihat baik-baik saja?”. Aku hanya bisa melengkungkan senyuman, tapi intuisi ku menjawab, “Tidak apa-apa, diam ku juga bentuk nyaman dari orang lain”.

Di sore hari — ketika hembusan angin hanya berlalu seperti desah pelan dan langit yang enggan merubah warnanya, hingga aku menyadari bahwa ketenangan yang selama ini kupeluk erat bukanlah salah satu yang bisa menjadi sahabat, Namun juga bisa menjadi musuhku. Ia menyerupai ruang perantara : dimana semua rahasia yang telah kutimbun dengan rapi, akhirnya terus bersinggungan dengan segala hal yang sudah sejak lama ingin kuucapkan. Kini, diam ku bukan lagi benteng, melainkan menjadi pintu yang perlahan terbuka dengan sendirinya tanpa kusadari, dan usaha keluar dari pintu itu bukan hanya terasa lelah dan berat, tapi dengan  semua pertanyaan yang selama ini kubirkan berdengung tanpa satu jawaban.

Pada akhirnya, kisah itu baru dimulai. Dalam sebuah jeda kecil yang sering kali diabaikan oleh orang lain, karena jeda yang sering kali muncul adalah ketika dunia terasa terllau riuh, sementara hatiku justru semakin sunyi. Di titik ini, aku akhirnya bisa lebih memahami untuk mendengarkan diri ku sendiri — bukan dari harapan orang lain, bukan juga dari tuntutan apa pun, Namun dari suara percik dan selama ini kuabaikan.

Bukan suara yang terlalu keras, bukan pula yang terlalu memaksa, hanyalah suara yang telah lama kucari, meski sebenarnya tak pernah pergi.

Suara yang muncul lembut. Menyelinap dari dalam retak nya jiwaku sendiri.

Di Kala “Tenang”

 

 

 

 

 

 

 

 


Senyap yang Tertutup

 

Seharusnya aku merasakan hari seperti biasa. Matahari yang naik perlahan dibalik atap rumah-rumah, kicauan burung dengan pola suara yang sama, dan aroma tanah lembap yang tersisa dari derasnya hujan semalam. Namun, hari ini terasa berbeda di mataku.

Angin sore merayap tertatih, menyingakap dedaunan yang berguguran di tepi jalan. Bisikan yang samar diantara gemerisiknya — seolah memanggilku kembali pada apa yang pernah hilang dari diriku. Aku mulai mengerti : ada hal yang tak sepenuhnya lenyap, mereka hanya tertumpu diantara suara-suara yang terlalu ramai.

“Kal..heyyy..KALAAA” satu suara memcah lamunanku. Lembut, tidak mendesak. Seperti aku yang sedang mencoba menghindari dunia

Seketika, aku menoleh. Asa sedang mematung diri disana, sembari menyilangkan tangannya dan menatapku seperti sedang membaca halaman buku.

“Kamu ngelamun lagii Kal,” ucapnya, menghela napas dan setengah khawatir

“Aku cuma..pengen sendiri dulu Sa.” Kalimat rapuh di telingaku sendiri.

Aksa mendekat dua langkah. “Sendiri sih ya nggak apa-apa. Tapi jangan sampai hilang ya, hehe”

Aku hanya menunduk. Seperti ada sesautu yang menegang di dalam dada — sejenis rasa yang tak bisa kuterjemahkan ke dalam bahasa maupun frasa, tapi selalu hadir ketika dunia terasa begitu kejam. Itulah suara yang selama ini kuacuhkan : Suara diriku sendiri

“Aku terlalu takut, Sa,” ucapku pelan.

“Aku takut dengan diriku sendiri… aku nggak pernah suka sama apa yang kudengar”.

Asa, menantapku dengan serius, lalu berkata, pelan dan penuh pasti

“Aku duduk disini juga boleh?, biar kalua suaranya terlalu keras, kamu bisa bagi separuhnya ke aku.”

Aku tersenyum tipis, meski tak stabil. “Kamu pasti gitu, Hadir disaat aku nggak pernah minta.”

“Haduh, kalua nunggu kamu minta,” jawabnya, sambal duduk disampingku, “mungkin aku nggak akan datang Kal.”

Sore hari itu terasa berubah — bukan tentang langitnya, tapi aku rasa karena ada seseorang yang begitu berani menantang sunyi yang perlahan sedang kurawat dengan diam. Angin terus menggeser sore hari menjadi senja, Seolah langit meredup perlahan untuk memberi ruang bagi emua orang yang sedang mencoba untuk pulang. Aku menatap jauh ke depan, ke jalan yang sudah tampak biasa, tapi terasa seperti suatu persimpangan yang menentukan apapun setelahnya.

Asa merapatkan cardigan yang dipakainya. “Kal, kok kamu kayak keliatan habis perang?”

“Perang? Perang sama siapa?”. Aku sedikit mengangkat alis

“Diri kamu sendiri lah..”.                                                                                                  

Asa menatapku tanpa kedipan. Ia bukan menunggu jawaban, tapi untuk memastikan bahwa ia mengerti, meskpiun aku tidak pernah menjelaskan.

Tawaku pendek, hambar, tapi tak juga getir. “Mmm, kalau itu, aku pasti kalah telak, Sa”

“Eitss, Belum Kal” sanggahnya cepat, “Perangmu belum usai. Kamu cuma lagi.. istirahat.”

Ada jeda yang cukup panjang. Angin membawa aroma nya sendiri — aroma tanah, sedikit lembap, sedikit asing. Seperti memberi tanda bahwa ada hal yang berubah, tanpa kusadari.

“Nggak tahu aku harus mulai dari mana, Sa,” ucapku akhirnya.                                                                 Seketika aku menatap kedua telapak tanganku, seolah disanalah jawaban yang telah tersimpan tapi sengaja bersembunyi.

Asa, mencondongkan tubuhnya “Dari jujur nya kamu, Kal” ucapnya “Sederhana, tapi.. sesulit itu buat kamu.”

Aku merasakan ada sesuatu yang melunak dalam diriku, apa mungkin karena kalimatnya, kehadirannya, atau mungkin karena pertama kalinya setelah sekian lama, aku berhenti melarikan diri dari suaraku sendiri.

Langit senja semakin rendah, namun menyisakan cahaya tipis yang membentang seperti garos antara apa yang telah kutinggalkan dana pa yang sedang kutuju. Sebelum aku benar-benari siap, aku ingin mendengar suaraku sendiri mengalun di dalam logika :

Yang tersisa, menjadi awal. Mulailah meski pelan, meski takut.                                                                  Karena diam yang dipilih, bukanlah rumah — hanya pemberhentian sementara.

Aku menarik napas dengan panjang. Asa menatapku seolah ia ikut menarik napas bersamaku.

“Oke,” kataku perlahan. “Kalau gitu…ayo mulai.”

Asa tersenyum. “Akhirnya, Kal.”

Langit senja pun ikut luruh, tak rapuh.

Dan kisahku, benar-benar dimulai.

 

 

 

 

 

Retak menyeruak Riak

 

Langit di pagi hari ini terlihat pucat, aku baru saja bangun dari mimpi yang panjang, menyusuri koridor kampus yang sunyi, membawa buku-buku yang selalu kubaca, namun aku hanya mengikuti arah langkah kakiku tanpa tahu arahnya kemana.

“Telat lagi.” Seruan gumam pada diri sendiri.

“Aku dengar lho.”

Aku menoleh. Asa sudah berdiri dibelakangku dengan rambutnya yang sedikit berantakan, seolah angin pun mengerti ia adalah tempat paling nyaman untuk kembali.

“Sengaja ngikutin aku ya?” tanyaku.

“Kepedean kamu. Aku cuma lagi lewat aja” ucapnya santai. Lalu menambahkan, “Aku juga tahu, kamu pasti bakal ngomong hal pesimis, iya kan?”

Aku mendengus. “Sesusah itu, buat bilang sesuatu yang optimis”

“Bisa, Kal.” Ucapnya

“Gimana caranya?” tanyaku.

Asa menunjuk ke dadaku, lalu berkata : “Kemarin kamu udah mulai mendengarkan diri kamu sendiri. Itu cukup langkah besar, Kal.”

Seketika, aku menghentikan langkahku. Kalimat yang diucapkannya.. terasa lebih berat dari buku-buku yang kubawa ditanganku

“Aku suka lupa kalau aku pernah punya keberanian, Sa” ucapku dengan lirih.

Asa mengangkat bahunya. “Justru itu, aku ingetin.”

Kami berjalan algi, perlahan. Mentari muncul sedikit demi sedikit, dan memantulkan cahayanya ke lantai koridor yang mengilap. Setiap kilauannya seperti mengantarku pada sesuatu yang baru — entah apa, entah ke arah mana.

“Mau dimulai dari mana, Kal?” tanya Asa

Aku memikirkan jawaban yang tepat.                                                                                    

Untuk pertama kalinya, aku tidak terburu-buru dalam memilih.

“Kayaknya… dari mencoba bertahan dulu deh,” jawabku.

Asa mengangguk. “Nah, itu baru Kala yang aku kenal.”

“Mungkin juga,” lanjutku, “Akum au mulai mencari jejak yang selama ini hilang.”

Ia tersenyum kecil, hamper tak terlihat sedikitpun. “Tentu. Kita cari bareng-bareng ya, Kal.”

Sunyi yang menyelimuti percakapan ku dengan Asa, bukan seperti hal yang menekan lagi, melainkan ruang untuk bernapas bersama dalam ketenangan yang selalu bersama diriku. Dan dari sinilah semuanya dimulai : Perjalanan jiwa, kecil, langkah pelan, dan suara yang kembali muncul…

Di Kala “Tenang”

Aku menyusuri kelas dengan pelan, seperti enggan mengusik pikiranku yang belum saja utuh. Koridor kampus mulai ramai oleh mahasiswa, tapi diriku terasa jauh dari keramaian yang ada, seolah aku berada di balik kaca, melihat semuanya tanpa benar-benar ada di sana. Ketika pikiranku mulai sedikit lebih ringan, sesuatu hal yang tidak kuharapkan, datang dengan seenaknya — tanpa aba-aba, tiba tiba membawa kabar buruk yang menyebabkan aku lengah.

Ponselku bergetar kencang.

Ada satu pesan yang masuk. Dan nama yang muncul di layar ponselku, membuat tubuh ini mematung dengan sendirinya.

“KAL, CEPET PULANG. SEKARANG!” — Ibu

Tidak ada tanda baca yang lain, tanpa penjelasan. Tapi kalimat itu, cukup membaut keteangan kecil yang baru kukumpulkan dengan asa, runtuh dalam sekejap.

“Kal, Muka kamu kok pucat?” Asa menghentikan langkahnya. “Ada apa, Kal?”

Aku segera menutup layar ponselku dengan tangan yang sedikit gemetaran.

“Entahlah,” gumamku, meski aku tahu itu kebohongan. “Aku nggak suka nada pesannya.”

“Kal—”

“Aku harus cepet pulang,” potongku “Sekarang”

Aku melihat ada kekhawatiran di mata Asa, “Aku antar ya.”

Aku sedikit ragu. Diriku ingin bilang tidak — jika aku mengajaknya kerumah, rasanya aku langsung mengakui bahwa aku memang sedang genting. Tapi, aku begitu lelah menahan semuanya sendirian.

“… ya udah, Ayo” jawabku akhirnya, dengan suara yang hampir menghilang.

Kami berlari menuju parkiran. Setiap langkah terasa seperti memindahkan sesuatu yang berat dari dada ke perutku, kemudian kembali lagi.

“Tarik napas dulu, Kal” ucap Asa sambal menyalakan motor. “Kamu nggak sendirian, ada aku.”

Aku menggenggam helm dan menunduk, menciptakan satu jeda kecil sebelum masuk ke dalam kondisi yang bahkan belu pernah aku pahami sepenuhnya.

“Makasih ya, Sa.” Ucapku singkat.

Angin yang menerpa wajahku selama perjalanan menuju rumah, tidak terasa menenangkan. Justru seperti membawa bisikan yang selama ini kubuang : ketakutan, kegelisahan, dan pertanyaan yang tak mau diam. 

Ada apa lagi?  Kenapa ibu harus seperti itu?                                                                                               Apa aku siap mendengar yang sebenarnya?


Rumahku berada di ujung jalan, tenang seperti baisanya, seolah tak ada yang terjadi. Tapi, ketika kaki ku menapaki halaman rumah, aku tahu semuanya tak lagi sama.

Pintu terbuka. Ibu sudah berdiri dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya — bukan amarah, bukan rasa takut.. tapi patah. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah suara yang mengguncang seluruh fondasi ketenanganku :

“Ada hal yang harus kamu tahu, Kal.”

Dan di titik itu, aku merasa sleuruh dunia ikut menahan napas. Suara-suara yang muncul di kala tenang, seketika berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih ramai, lebih tajam dari apa yang pernah kubayangkan.

Ibu memegangi ujung kerudungnya dengan begitu erat, seolah jika ia melepaskannya saja, maka dirinya akan ikut runtuh. Aku menunggu, tapi jantungku terasa sudah lebih dulu terjatuh.

“Ada apa, bu?” tanyaku dengan suara yang asing di telingaku sendiri.

Ibu menghela napas panjang — mengisyaratkan bahwa setelah ini, tak aka nada yang bisa kembali seperti semula.

“Sejak kecil.. kamu pernah mengalami sesuatu yang mungkin tidak pernah kamu ingat, atau pernah kamu izinkan untuk diingat”

Tubuhku kaku. “Maksudnya?”

Ibu menelan air matanya. “Kal, kamu pernah hilang hampir selama 1 harian waktu umur kamu 7 tahun. Kamu ada di pinggir danau, dalam keadaan liglung. Dokter bilang, kamu mengalami shock berat. Dan.. kamu tidak pernah ingin bicara tentang itu lagi.”

Aku menetap ibu, tanpa berkedip. Kalimatnya masuk, tapi tidak mendarat. Seperti aku yang mendengarkan kisah orang lain, bukan kisah diriku sendiri.

“Kok Ibu baru kasih tahu aku sekarang?”

“Kal, kamu pasti takut kalau kejadian itu disebut. Kamu nangis, menjerit sampai gemetar. Ibu Cuma mau, ingatan kamu tentang kejadian itu hilang dan bikin kamu normal lagi”

Aku terdiam. Normal…                                                                                                                                                    Kata yang terasa seperti pisau tumpul yang ditarik paksa dari dalam dadaku.

“Tapi, belakangn ini kamu banyam diam, melamun, susah fokus, bahkan tidur aja gak lama. Ibu takut, ingatan itu kembali tanpa persiapan, Kal.”

Aku mundur satu langkah. “Aku baik-baik aja, bu.”

“Kala.”

Aku serasa ingin berteriak bahwa aku memang baik-baik saja, hidupku baik, pikiranku baik, dan aku Normal. Tapi ternyata, ada sesuatu yang retak dalam diriku bahkan sebelum aku menjawabnya.

“Beri aku waktu buat sendiri,” kataku, lebih cepat dari yang kupikirkan.

Aku berbalik, nasfasku terasa terengah-engah, tidak teratur, seperti paru-paruku menolak kenyataan yang baru saja kubawa masuk.

Dari depan pintu, Asa berdiri dengan mata yang menyimpan banyak kekhawatiran yang sudah tidak berani ia sembunyikan.

“Kal..”. Ia maju satu langkah. “Ada apa?”

Aku menggeleng cepat. “Jangan sekarang, Sa”

“Aku tadi denger, Kal” ucap Asa pelan. “Kamu —“

“Asa, tolong ngerti.” Suaraku pecah. “Jangan dulu tanya apapun.”

Aku tahu, wajahnya menunjukkan sesuatu yang lain. Bahwa aku akan runtuh tanpa memberi kesempatan pada siapa pun untuk menolong, Sekalipun itu adalah Asa.

“Aku cuma pengen bantu, Kal”, katanya lebih lembut. “Bagaimanapun, kamu tetap bisa cerita ke aku, ayo lah Kal.”

“Aku nggak mau kamu tahu tentang itu!” Aku menaikkan nada suara tanpa sadar.

Asa terdiam. Bukan karena marah.. tapi karena terluka.Dan itu, terasa seperti aku yang ingin menghancurkan diriku sendiri.

“Ini aku Kal… Asa” ucapnya pelan “Aku bukan ancaman”

Aku mundur dari setengah langkah, seperti ada dinding yang tiba-tiba memisahkan kami berdua.

“Aku… bahkan nggak tahu siapa aku, Sa”bisikku. “Gimana orang lain bisa tahu aku?”

Hening berkepanjangan.                                                                                                                                 Asa merengkuh, seolah menelan kalimat yang ingin ia lontarkan, tapi tak berani untuk disebut.

“Kalau gitu.”  Suaranya gemetar, “Setidaknya jangan dorong aku untuk pergi, Kal”

Aku memejamkan mata, kalimat itu terasa seperti uluran tangan terakhir yang kutolak begitu saja, padahal aku sangat butuh pegangan itu.

“Aku butuh waktu,” kataku perlahan.

“Silahkan.” Jawab Asa. Namun aku sebenarnya tahu itu bukan jawaban yang ia inginkan. Ia hanya bisa menelan kecewa, seperti biasa.

Dan dalam keheningan yang panjang ini, aku dan Asa hanya berdiri beberapa langkah dari satu sama lain — tapi rasanya seperti dua dunia yang terpisah. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Asa, Ia mengambil langkah mundur.

“Aku selalu ada, Kal” ucapnya.

Lalu pergi, tidak cepat. Tapi cukup membuat ruang kecil dihatiku terasa kosong. Dan saat pintu rumah kututup, aku menyadari :

Masalah terbesar bukanlah masa lalu yang kembali lagi —                                                                                       tapi tentang bagaimana masa lalu itu, mulai meretakkan satu-satunya hal yang membuatku merasa teduh dan utuh :

Hubunganku dengan Asa

 

 

 

 

Kini, Mengurai Sunyi

 

Di malam harinya, aku sama sekali tidak tidur. Aku hanya duduk di tepi ranjang, memandangi lantai kamar seperti ada yang ingin keluar dari sana. Udara terasa tipis, seolah setiap napas membawaku lebih dekat kepada sesuatu yang tidka ingin aku hadapi. Kemudian, potongan itu datang, bukan gambar utuh, tidak jelas, tidak rapi, Tapi cukup mengguncang lamunanku.

“Aku nggak akan pernah bisa” sembari menutup wajahku. “Kenapa ini harus datang lagi?”

Potongan kedua, muncul lebih keras, lebih tajam :

Aku semakin berlari. Dengan suara teriakan yang berada di belakangkangku, siluet pohon-pohon, Danau, langkah terpeleset dan air menelan suara “Gelap. Gelap. Gelap”

Tanganku gemetar hebat, aku merasa seperti tubuh ini bukan milikku. Seperti ingatan itu yang memegangf kendali atas segalanya. Dalam kondisi yang berhamburan, satu pesan masuk

“Kal, aku di depan rumah. Kita harus bicara”                                                                                                — Asa

Aku hampir saja mengabaikannya. Tapi bagian dalam diriku masih berharap dan tidak membiarkan itu terjadi. Aku keluar rumah, Asa berdiri dibawah lampur teras, wajahnya cemas dan penuh keraguan.

“Kamu nggak balas pesan aku seharian,” ucapnya.”Sebenarnya ada apa sih, Kal?”

Aku memalingkan pandangan. “Aku lagi mau sendiri.”

“Tapi, aku harus tahu.” Ucap Asa. “Ini semua tengtang aku? Atau mungkin tentang kita?”

“Tolong, aku butuh waktu. Sa”

“Aku harus.” Jawabnya tegas. “Kamu bilang butuh waktu kan, aku udah beri waktu. Tapi, kalau kamu terus nolak aku bahkan sebelum aku ngomong, aku harus tahu apa posisi aku di hidup kamu, Kala.”

“Asa, aku bahkan tidak mengenal diri ku sendiri!” aku menatapnya, “Bagaimana aku bisa jelasin ini semua, bahkan baru muncul dalam potongan-potongan aneh di kepalaku?”

“Aku nggak butuh penjelasan yang lengkap, Kal” ucapnya, “aku Cuma mau, kamu izinin aku buat ikut bantu.”

“Kalau nggak bisa?” nada suaraku yang lebih keras dari yang kusadari. “Gimana kalau ingatan itu malah menghancurkan semua yang aku punya? Termasuk kamu, Sa.”

Asa mengetatkan rahangnya. “Kalau kamu menepis aku terus kayak gini, pasti Kal, semuanya akan hancur.”

Aku terdiam dan terpaku sesaat. Kalimat nya seperti pukulan yang mendarat tepat di dada ku.

“Jadi, ini salahku gitu?” tanyaku dengan tajam.

“Bukan aku yang bilang ya,” jawab Asa. “Kamu tahu nggak? Hubunga itu dua arah. Kamu menjauh, Kal, nutup pintu, kamu doron aku sampai aku sendiri juga bingung harus seperti apa.”

Diriku goyah, ini terlalu berlebihan, terlalu cepat.

“Aku cuma mau satu hal” Asa melanjutkan. “Tolong, biarkan aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun sedikit.”

Tanganku mengepal di sisi tubuh. “Aku.. melihatnya lagi,” bisikku “Ingatan yang hilang, dan menakutkan. Aku nggak tahu harus gimana, Sa.”

Asa menghela napas tajam. “Kamu kenapa nggak cerita sih?”

“Karena aku nggak mau kamu semakin khawatir, aku nggak mau lagi jadi beban kamu, Sa” ucapku

Disitulah, pertengkaran aku dan Asa benar-benar mencapai puncaknya.

“Aku tuh tipe orang yang pergi karena takut, Kal!” Asa meninggikan suara untuk pertama kalinya “Aku juga bukan orang yang ngeliat kamu itu beban, Ingat itu!”

Asa jarang sekai marah, tapi saat ini ia marah bukan karena benci, tapi karena begitu peduli

“Gimana kalau aku berubah setelah ingatan tentang kejadian itu datang lagi?” aku menatapnya dengan mata yang banjir

“Kala,” Asa tepat menatap lurus kepadaku.

“Kalau kamu berubah, aku juga berubah. Kamu jatuh, aku juga bakal ikut jatuh, tapi disaat kamu takut, aku bakal tetap tinggal. Sesederhana itu”

 

 

Dadaku seperti ditarik oleh sesuatu.                                                                                                        Perlahan, sesuatu yang ada dalam diriku melemah — bukan karena kalah, tapi karena aku sudah mulai percaya.

“Asa… aku boleh cerita tentang potongan aneh itu?”

Asa tersenyum tipis. “Boleh dong. Aku disini, tapi sambal duduk ya, aku pegel nih berdiri terus.”

Aku mulai menceritakan semuanya.

Ketakutan, Kegelisahan, Suara yang begitu dingin, dan sepanjang aku berbicara, Asa menggenggam tanganku, bukan hanya untuk menguatkan. Tapi, untuk memastikan bhawa aku tidak kembali ke masa itu sendirian. Ketika selesai, aku terasa kehabisan napas, tapi yang anehnya.. dadaku terasa sedikit lebih longgar.

“Ingat ya Kal, ingatan itu nggak bikin kamu rusak, itu akan selalu jadi bagian kecil dari perjalanan kamu.”

“Tapi, Sa. Aku butuh banyak waktu?”

“Tenang Kal, aku punya kok banyak waktu.”

Dan sejak dimulai. Aku merasakan solusi itu bukan tentang menghapus masa lalu, tapi tentang bagaimana kita membiarkan seseorang berjalan berdampingan bersama kita untuk melewati masa lalu.

Malam itu, aku menatapnya lebih tenang                                                                                                    “Terimakasih lagi, Asa.”

“Aku tetap disini, Kal.” Jawabnya “Di kala tenang”

Ketenangan dalam diriku tidak terasa lagi menakutkan — tapi kembali terasa seperti rumah.

Pada akhirnya, semua yang ada dalam logika ku perlahan mereda. Seluruh ingatan yang tadinya tajam mulai mengendur :  tidak lagi melukaiku ataupun orang lain, justru ia mengingatkan bahwa aku terlalu lama berusaha bertahan sendirian.

Di antara sisa-sisa keheningan itu, ada Asa — yang selalu menemaniku dibawah langit senja, menatapku dengan mata tulus yang tahu banyak hal tanpa harus kututurkan. Ia tidak pernah memintaku untuk menjelaskan apa-apa, dengan kehadiran yang diam diam menyusun ulang bagian diriku yang sempat runtuh.

“Akhirnya, kembali juga, Kal.” Ucapnya pelan. Bukan kembali padanya, tapi pada diriku sendiri.

Seperti biasa, kami duduk dibawah goresan langit sore hari — dua manusia yang sama-sama pernah retak, tapi lebih memilih untuk tidak saling memperbaiki, melainkan saling menemani hinga menemukan caranya sendiri untuk pulih. Tidak ada kata cinta, tidak perlu.

Sebab, apa yang telah tumbuh diantara kami bukanlah perasaan yang ingin memiliki. Tetapi, perasaan yang selalu ingin memahami

Angin sore menyentuh kulitku dengan lembut, setelah sekian lama aku merasakannya penuh dan utuh, tanpa ada lagi suara yang mencoba menenggelamkan.

“Sa, menurut kamu. Aku udah cukup baik sekarang?” tanyaku, nyaris seperti bisikan.

Asa menatap langit sore yang mulai berubah warna. “Kalau menurutku ya, kamu udah cukup baik dari awal, Cuma lupa menyadari aja, Kal.”

Aku terdiam lama. Lalu, tanpa sadar aku melengkungkan senyuman kecil — bukan karena merasakan bahwa dunia membaik, tapi karena aku tak lagi harus menghadapi semuanya sendirian. Dan dititik inilah, aku memahami satu hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya :

Bahwa ketenagan bukan sesuatu yang harus kucari jauh-jauh. Ia selalu menunggu, di ruang kecil dalam diriku, yang akhirnya berani kubuka kembali.

Sore hari itu bergeser pelahan, langit kehilangan warnanya, tetapi aku menemukan yang baru. Di batas antara cahaya dan gelap, aku semakin mendengar suara yang sangat kukenal, Suara yang sempat hilang, kini kembali tumbuh dan utuh.

Suara itu muncl dengan  perlahan…                                                                                                              menyelinap berama bagian dari diriku sendiri                                                                                            di Kala “Tenang”

 

 

TAMAT

 

 

EPILOG’UE

 

Kini, aku mulai percaya bahwa ketenangan adalah suatu hal yang akan selalu kudapatkan dari luar — dari jarak, hening, dan ruang yang tidak menyentuh ingatanku sama sekali. Aku juga mulai mengerti bahwa tenang bukan berarti harus menghilangkan semua suara yang ada. Namun, itu terasa seperti irama halus yang tetap berlalunan meski dunia terus bergerak tanpa henti. Aku hanya terlalu sibuk berlari dari hal-hal yang selama ini kusembunyikan, bayangan kualihkan, ingatan yang menyengat selalu kusingkirkan.

Ketika semuanya bergeser dengan perlahan, aku mulai merasakan bahwa ketenangan bukan hadiah yang datang secara tiba-tiba. Namun, ia adalah ruang dari keberanianku yang bisa menerima bagian bagian yang selama ini kutolak. Muncul dari langkah-langkah kecil, ia tumbuh dari kejujuran yang akhirnya berani kuucapkan, walaupun setiap kalimatnya tak selalu rapi.

Dari perjalanan yang telah kulewati, tanpa kusadari penuh. Asa, selalu berada disampingku. Bukan sebagai penopang, bukan juga sebagai tempat bersandar selamanya — tetapi sebagai seseorang yang telah menjaga api kecilku agar tidak padam saat aku sendiri tidak sanggup menjaganya. Ia hadir seperti cahaya redup di pojok ruangan : tidak menyilaukan, tetapi selalu cukup untuk menunjukkan arah disaat aku tersesat sendirian.

Aku semakin belajar bahwa pulih itu bukan tentang kembali menjadi seperti dulu. Pulih adalah tentang bagaimana kita mengenali diri yang baru : terluka tapi lebih jujur; rapuh tapi lebih mengerti; berjalan pelan, tapi tetap bergerak. Di suatu hari nanti, ketika dunia kembali riuh dan langkahku mulai goyah, aku akan berteduh sejenak dan mengingat kalimat ini :

“Ada satu tempat di dalam diriku yang tak pernah bisa hilang. Menyimpan saat terjatuh, menerimaku saat aku hilang arah, dan menjaga bisikku agar tetap hidup meski ributnya dunia nyaris menenggelamkannya.”

Dan di tempat itu, dalam jeda yang tak pernah memaksa, aku akhirnya bisa merasakan pulang yang sesungguhnya— Pulang pada suaraku sendiri,

Pulang ada diriku sendiri,                                                                                                                             Pulang di Kala “Tenang”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan, pada akhirnya. Hal yang mengajarkanku untuk pulang pada rumah yang sesungguhnya bukan dari tempat yang kutuju, melainkan dari diriku sendiri yang berani berbicara serta mendengarkan di Kala Tenang

...

 

Bandung, 14 November  2025


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tulis oleh

Seseorang yang gemar menyimpan cerita dalam diam dan merawat luka melalui aksara.  Aku masih saja menyisipkan nama—bukan hanya untuk dikenang, tapi agar tak benar-benar hilang dan akan selalu abadi dalam setiap karya.

 

 

 

 

 

Salam Hangat

Penulis

 

 

Prayoga

 

 

Komentar

Postingan Populer